MA’BACA BACA ORANG MATI

Ma’baca-baca artinya membacakan doa dihadapan makanan yang disediakan dalam acara tertentu dilakukan bersama sama atau lebih tepatnya pengajian di rumah. Ma’baca-baca menjadi sebuah tradisi suku Dakka, bahkan suku besar di Sulawesi yaitu suku Bugis, Makassar, Mandar, dll. Ma’baca-baca pada umumnya dilakukan oleh masyarakat saat Maulid, Idul Fitri, kematian, pernikahan, akikah, sunatan, turun sawah, hingga ketika ingin memasuki rumah baru. Ritual Ma’baca-baca biasanya dipimpin oleh tokoh adat, ustad, para pemimpin agama, tokoh masyarakat, atau orang yang dituakan di keluarganya, dan para pengaji dari pesantren. Makanan akan dihidangkan dengan rapi di dalam sebuah nampan yang disebut dengan baki, dalam acara tertentu juga disediakan tungku kecil disebut dupa-dupa harum yang berisikan bara api. Dupa-dupa harum ini disediakan pada acara akikah, pernikahan, Maulid, Lebaran. Tiga hari sebelum Ma’baca ibu-ibu dari desa akan berkumpul di rumah yang akan melakukan Ma’baca untuk menyediakan bumbu-bumbu dan memasak persediaan makanan. Itulah salah satu yang menjadi keunikan Sulawesi Barat. Adat istiadat masih dilestarikan dengan baik dari generasi kegenerasi. Jaman boleh berkembang namun adat istiadat tidak boleh ditinggalkan, juga harus diingat dan tidak boleh diubah maknanya. Sulawesi Barat yang kaya akan suku bangsa sangat cocok menjadi tempat penelitian terhadap adat istiadat maupun budaya Indonesia. Orang tua dan anak-anak muda selalu giat belajar terhadap budaya mereka sendiri. Salah satu suku yaitu suku Dakka masih memegang kuat adat istidat atau tradisi mereka. Secara umum mereka tidaklah orang-orang yang memiliki tamatan sekolah yang tinggi, namun tetap melestarikan adatnya. Salah satu ritual adat yang masih dilakukan adalah baca-baca orang mati. Baca-baca orang mati artinya membacakan doa di rumah keluarga yang berduka atau yang ditinggalkan, baca-baca ini dilakukan juga pengajian oleh anak anak pesantren yang dipimpin seorang ustad. Baca-baca dilakukan bagi setiap orang yang meninggal, tidak mengenal usia yang sudah mati, baik yang mati muda dan tua harus dilakukan baca-baca. Ada beberapa jenis makanan yang disediakan pada setiap baca baca tergantung usia meninggal dan apa yang disukai oleh orang yang meninggal tersebut, misalnya anak-anak makanan yang dibuat susu, makanan ringan, dll. Baca-baca dilakukan dimalam hari, lalu paginya keluarga pergi ke kuburan jiarah, peziarah kuburan adalah keluarga dekatnya saja, dan keluarga yang tinggal di rumah orang yang meninggal, dengan membawa bunga pandan ditaburi di kuburan supaya harum. Salah satu desa di Polewali Mandar Sulawesi Barat yaitu Desa Galeso juga melakukan baca-baca di tanah (mallamu) menanam, massorong dihanyutkan ke air lalu dibaca-baca, bawa makanan sokkol, ayam, ikan, atau orang yang fanatik sebut makanan ini adalah sesajen. Lalu baca-baca ke rumah lagi ada pusiariang (tiang paling tengah rumah) dilakukan baca-baca disana. Baca-baca orang mati merupakan tradisi orang Mandar, yang merupakan juga anjuran nabi Muhammad. Kematian bagi mereka adalah suatu duka yang dalam. Setiap orang yang meninggal harus tetap dikenang dalam kehidupan sehari-hari. Mereka sangat mencintai sanak saudara mereka, sehingga mereka melakukan suatu tradisi kuno yaitu baca-baca orang mati (berdoa bagi orang mati) atau Tahlil. Acara baca-baca dilakukan dimulai hari ke-3 setelah meninggal, hari ke-7, hari ke-10, hari ke-14, hari ke-20, hari ke-30, hari ke-40, hari ke-50, hari ke-60, hari ke-70, hari ke-80, hari ke-90, hari ke-100, sampai hari ke 104 (Maulid pada hari ini dilakukan mantappung hari ke terakhir baca-baca, dilakukan pemotongan kambing atau sapi) selama jeda waktu sampai hari ke 1000 tidak ada baca-baca lagi, (1000 hari baca baca dilakukan oleh adat Jawa yang ada di Sulawesi Barat). Jadi setiap keluarga harus mengikuti acara ini yang dilakukan di rumah orang yang meninggal, dengan menghidangkan banyak makanan, membaca ayat Alquran, mengaji, dan berkumpul di rumah beramai-ramai makan bersama. Acara dilakukan pada malam hari. Dengan mengundang bapak-bapak untuk baca-baca ayat Alquran, penatua kampung, dan mengundang teman-teman sekampung dan keluarga besar. Makanan yang dihidangkan bermacam-macam seperti: ikan (bale), nasi, ukkayu (sayur), telur bebek, palekko (masakan bebek), ayam, udang, kue dan tentu saja air putih. Tetapi acara baca-baca orang meninggal yang ke-100 sangat istimewa bagi seluruh suku yang menempati Sulawesi Barat yang merayakan acara ini. Mereka membacakan ayat Alquran. Tetapi tidak semua orang meyakini dan melakukan baca-baca orang mati. Ada paham yang memang tidak merayakan baca-baca orang mati yaitu islam baru-baru, mereka tidak melakukan tradisi-tradisi kuno yang diadopsi dari agama lain termasuk baca-baca orang mati menurut pak Sukwanto adalah tradisi agama Hindu yang dilakukan umat Islam pada jaman dahulu sebagai cara untuk menarik perhatian Hindu agar mereka masuk Islam. Namun, di dalam Hadist tidak ada dituliskan baca-baca orang mati, sehingga bagi penganut paham ini mereka akan mengatakan bahwa referensi ini benar sesuai Alquran dan Hadist. Dan juga nabi Muhammad S.A.W juga tidak melakukan tradisi ini. Dan paham yang lain memang melakukan baca-baca orang mati hingga 1000 hari. Mereka meyakini bahwa ini adalah ibadah kepada Allah yang dilakukan dari dulu sehingga jika baca-baca orang mati dilakukan maka bertambah pahalanya. Mereka adalah Islam pertama. Jika ditanya apa yang menjadi referensi mereka melakukan baca-baca orang mati, maka jawabannya adalah Alquran dan secara turun temurun sudah dilakukan oleh nenek moyang mereka. Perbedaan dari dua paham ini tidaklah jadi masalah bagi umat Islam di Sulbar. Mereka tetap saling menghargai dan hidup harmonis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suku kajang